Kamis, 09 Agustus 2012

BUSHIDO "JaLan Samurai"



BUSHIDO
Samurai mengikuti serangkaian peraturan tidak tertulis yaitu kode etik samurai atau Bushido. Kode etik samurai yang tidak tertulis, yang disebut juga dengan Bushido, menyatakan bahwa prajurit sejati harus memegang teguh kesetiaan, keberanian, ketulusan, simpati, dan kehormatan di atas segalanya.

            Sebuah apresiasi dan menghargai kehidupan juga tidak kalah penting untuk menyeimbangkan perilaku seorang samurai. Seorang samurai bisa menjai mematikan dalam sebuah pertempuran tapi bisa menjadi orang lembut dan ramah kepada anak – anak dan kaum yang lemah.

            Selain berakar pada filosofi Zen, kode etik samurai juga dipengaruhi oleh Konfusionisme dan Shinto. Dengan latar belakang tersebut bisa dimengerti bahwa kode etik samurai tidak hanya berlaku sebagai jalan hidup, tapi menjadi suatu budaya yang baik selama berabad – abad bagi seorang samurai.

            Bushido sebenarnya berasal dari kata Bushi yang berarti “Pejuang” dan “Do” yang berarti “jalan”, dan bila digabungkan berarti jalan hidup seorang pejuang. Selama berabad – abad kode etik ini tidak pernah ada yang tertulis, kode etik samurai ini diturunkan secara lisan dari para samurai ternama. Hingga tahun 1685 Yamagei Yoko membagi kode etik ini menjadi tujuh kebenaran yang berakar dari paham konfusianisme dan ajaran Zen.

            Ketujuh kode etik itu adalah, “Gi” yang berarti keadilan. Adalah suatu kemampuan untuk memutuskan di dalam suatu situasi dengan alasan yang tepat dan tanpa keraguan, bagi samurai, mereka tahu kapan yang tepat untuk mempertaruhkan nyawa, dan untuk menyerang bila saatnya memang untuk menyerang. Prinsip ini juga digunakan setiap kali membuat keputusan, keputusan yang tepat adalah yang berasal dari hati bukan pikiran.

            Kemudian “Yu” yang berarti keberanian. Keberanian adalah berani melakukan hal yang benar, keberanian baru dianggap benar bila seorang samurai melakukan hal yang benar. Ini sangat penting karena bila seorang samurai mati karena hal yang tidak benar, maka kematiannya itu menjadi hal yang sia – sia.

            Yang berikutnya adalah “Jin”, kebaikan dan kemurahan hati dan kasih sayang. Seorang samurai sejati adalah samurai yang menunjukkan rasa kasih sayangnya terhadap sesama.

            Kemudian yang keempat adalah “Rei” yang berarti rasa hormat. Samurai menghormati tradisi dan pada hal – hal yang berlaku di masyarakat. Dan karena itu samurai juga patut dihormati oleh masyarakat, samurai harus selalu mempunyai kehormatan dalam pikiran, kata – kata dan perbuatannya.

            Yang kelima adalah “Makoto” yang berarti kejujuran dan ketulusan. Samurai yang paling buruk adalah yang tidak jujur. Samurai terikat pada kata – katanya, dan bila seorang samurai tidak dapat memegang kata – katanya ia akan dilucuti dari statusnya. Ketulusan adalah awal dan akhir dari semua hal. Seorang samurai harus selalu mempunyai kehormatan dalam pikiran, kata – kata dan perbuatannya.

            Yang keenam adalah “Meiyo” yang berarti kehormatan. Samurai lebih memilih mati daripada hidup dalam rasa malu, dan bila kehormatan seorang samurai sudah hilang, jalan satu – satunya untuk mendapat kehormatan itu adalah dengan melakukan seppuku.

Dan yang terakhir adalah “Chugi” yang berarti kesetiaan dan pengabdian. Samurai menunjukkan kesetiaan penuh pada tuannya. Kehidupan seorang samurai adalah dengan mengabdi pada tuannya.